14 - 16 March 2014 / Assembly Hall / Jakarta Convention Center

VISUAL ARTS

14 – 16 March 2014

Assembly Hall 3

11.00 – 23.00

14 March 2014

Lobby Assembly Hall, JCC

CULINARY ART

Odie Djamil
16.00 – 17.00

Assembly Hall 1 & 2

OPENING CEREMONY

with performance by
20.00 – 21.00  Fabas Art, Yacko feat. Iwa K.
21.15 – 22.00  Suarasama

15 March 2014

CULINARY ART

Ronald Prasanto
14:00 – 15:00
19:00 – 20:00

FILM SCREENING

12.30 – 14.20  Jiseul (O Muel, South Korea, 2012)
14.25 – 16.00  5 Indonesian short films

MUSIC PERFORMANCE

17.00 – 17.30  Tigapagi (Bandung)
18.30 – 19.10  Bangkutaman (Jakarta)
19.45 – 20.30  Dialog Dini Hari (Bali)
21.00 – 21.45  Sarasvati (Bandung)
22.00 – 23.00  Naif (Jakarta)

16 March 2014

CULINARY ART

Andrian Ishak
13.30 – 14.30
19.00 – 20.00

Assembly Hall 1 & 2

FILM SCREENING

12.30 – 14.05 Sacro GRA (Gianfranco Rosi, Italy/France, 2013)

14.30 – 16.30 Photography workshop by Anton Ismael

MUSIC PERFORMANCE

17.00 – 17.30 Sentimental Moods (Jakarta)
18.30 – 19.10 Hightime Rebellion (Jakarta)
19.45 – 20.30 Goodnight Electric (Jakarta)
21.00 – 21.45 Jogja Hip Hop Foundation (Yogyakarta)
22.00 – 23.00 Rock N Roll Mafia (Bandung)

ARTE 2014 : REGENERASI

ARTE 2014, edisi kedua dari festival seni tahunan ini akan mencoba menangkap gagasan tentang fenomena ‘generasi’ yang lahir dan tumbuh tidak hanya sebagai bagian dari kejadian alamiah tetapi juga sebagai peristiwa kultural yang digagas, dirancang oleh sebuah kesepakatan kolektif masyarakat. Sebuah generasi baru tumbuh tidak hanya bersamaan dengan sebuah harapan atas perubahan yang lebih baik, tetapi juga bersamaan dengan kecurigaan dan keraguan akan kegagalan sebagai penerus. Berbagai hal ditransformasikan/diteruskan dari satu generasi ke generasi yang berikutnya, dari nilai-nilai, kekuasaan, visi, identitas, pengetahuan, gagasan hingga mimpi-mimpi. Perpindahan generasi menjadi saat yang sangat penting, karena saat itulah segala hal itu dipertaruhkan, sebuah keberlanjutan atas gagasan dan mimpi-mimpi. Menjadi hal yang klasik generasi pendahulu melihat generasi baru dengan ragu dan kekuatiran, dengan anggapan generasi baru tidak cukup mampu, atau dimanjakan oleh pencapaian generasi pendahulu. Sementara generasi baru menganggap generasi pendahulu kurang progresif, kolot dan telah melakukan banyak kesalahan, dibanding pencapaian. Saling membandingkan antar generasi adalah sesuatu yang tidak terhindarkan, setiap generasi memiliki tantangan dan karakternya sendiri, karena ia dibentuk oleh waktu dan situasi sosial budaya dan politik tertentu.

Dengan tema ‘REGENERASI’ pameran ini akan menelusuri berbagai perspektif yang mengungkapkan realitas terkini dari apa yang sedang terjadi dalam konteks perubahan dan perpindahan generasi. Pameran ini berusaha melihat secara kritis cara setiap generasi mempertanyakan dan menyelidiki gagasan “regenerasi” yang secara langsung atau tidak langsung dipengaruhi oleh konteks luas sosial, budaya. Diharapkan muncul inspirasi tentang gagasan eksperimentasi regenerasi dan keberlanjutan tanpa friksi dan kekerasan yang dihasilkan dari pola kuasa yang berubah. Riset-riset artistik menelusuri identitas dalam konteks generasi, keluarga, asal usul dll. Tema ‘regenerasi’ ini diharapkan dapat diperluas dan beberapa hal yang bisa dieksplorasi dalam tema ini semisal; soal pola kuasa dan pola pengaruh yang terjadi diantara generasi (seniorisme, juniorisme) , bagaimana ketika pola kuasa itu harus berubah, dan apakah kekerasan selalu menjadi bagian dari perubahan pola kuasa tersebut ? pola kuasa dalam struktur hirarkis dari atas ke bawah dan kekerasan yang mendampinginya menjadi salah satu masalah terbesar dalam perubahan dan hubungan antar generasi, kita bisa melihat dalam skala besar bagaimana perubahan kuasa dari generasi ke generasi lain di negeri ini selalu diwarnai kekerasan, dalam skala yang jauh lebih kecil akhir-akhir ini kita menyaksikan fenomena ‘bullying’ dari senior ke junior di lingkungan sekolah.

Permasalahan lain yang menarik diekplorasi dalam tema ‘regenerasi’ adalah soal identitas sosial dan budaya (etnik, ras, keluarga dll) ,  bagaimana identitas tersebut harus dijaga dan diturunkan secara lintas generasi. Kekayaan identitas budaya di Indonesia akan sangat menarik dilihat dalam konteks ini. Di kenyataan terkini ‘regenerasi’ tentu bukan lagi hal yang sekedar terjadi secara alamiah, tetapi ia adalah sebuah fenomena yang dirancang dan disepakati, salah satu elemen yang penting dari proses itu adalah mekanisme kompetisi, yang menjadi mekanisme yang dipakai di banyak bidang -dari sekolah hingga kantor- untuk menentukan kemana arah regenerasi diteruskan, apakah mekanisme kompetisi ini mekanisme terbaik? Lalu bagaimana dengan soal kepemimpinan generasi, apakah dibutuhkan, ketika ia justru terbukti menjadi awal dari masalah ?

Pengolahan eksplorasi ide-ide personal, riset artistik, proses kreatif dan kolaborasi lintas disiplin dalam tema ‘regenerasi’ dan konteks luas yang melatarinya pada akhirnya akan mencerminkan bagaimana generasi baru secara kritis melihat dirinya sendiri dan generasi sebelumnya. Dengan mengeksplorasi  tema ‘regenerasi’ dan mengartikulasikannya dalam bahasa visual, membuka peluang yang besar untuk melihat cara pandang dan proses artistik dalam kebudayaan kontemporer, juga sebagai salah satu cara melihat kecenderungan terakhir praktek seni rupa kita. Perspektif dan pendekatan lain dalam berkarya akan sangat terbuka untuk dieksplorasi dan dieksperimentasi, demi lebih jauh lagi ingin membuka dan memperlihatkan perkembangan perubahan perspektif tiap generasi dalam bahasa baru media digital, dan budaya jaringan sosial dalam mengolah ide dan estetika.

@ARTEIndonesia